Pendidikan yang Revolusionis
By : Mamat
Mukadimah
Dunia Islam akhir-akhir ini tengah menghadapi berbagai permasalahan seputar krisis pendidikan Islam serta problem lain yang sangat menuntut upaya pemecahan secara mendesak. Memperhatikan permasalahan yang sangat kompleks ini, Syed Muhammad al-Naquib al-Attas memberikan analisis bahwa “yang menjadi penyebab kemunduran dan degenerasi kaum muslimin justru bersumber dari kelalaian mereka dalam merumuskan dan mengembangkan rencana pendidikan yang sistematis berdasarkan prinsip-prinsip Islam secara terkordinasikan dan terpadu.
Untuk itulah al-Faruqi menyatakan dengan tegas bahwa agenda pemecahan permasalahan problematika pendidikan Islam menjadi tugas rumah yang berat bagi umat Islam . Sejalan dengan hal ini, Khursid Ahmad menyatakan bahwa di antara persoalan-persoalan yang dihadapi dunia Islam masa kini, persoalan pendidikan adalah tantangan yang paling berat.
Kita semua, dewasa ini tengah dihadapkan pada tangtangan besar peradaban. Tangtangan terbesar antara lain, datang dari dunia pendidikan dan kebudayaan. Kini kita tengah mengalami apa yang disebut sejumlah kalangan dengan “krisis dunia pendidikan” dan “krisis kebudayaan”.
Wajah pendidikan dan kebudayaan kita sangat muram. Meminjam bahasa agama, tampak iswaddat wujuhuhum atau wujuhuhum muswaddah (wajah hitam muram). Terlalau banyak kabut masalah yang menyelimuti langit pendidikan dan kebudayaan kita. Sampai banyak kalangan yang pesimis dapat menata bangunan kembali peradaban bangsa kita, karena melihat kemuraman dari wajah pendidikan dan kebudayaannya. Kedua institusi ini merupakan pesawat utama penggerak peradaban. Jika penggerak pesawat peradaban ini tidak berjalan atau mengalami kerusakan, maka dapat dipastikan gerak peradaban juga akan terganggu atau malah tidak dapat bergerak kembali.
Krisis dunia pendidikan dan krisis kebudayaan ini, sekali lagi merupakan tantangan terbesar sebuah peradaban. Bila diamati, keduanya sangat berkaitan erat dan saling menentukan satu terhadap yang lainnya. Krisis dunia pendidikan dapat menyebabkan krisis kebudayaan, dan sebaliknya krisis kebudayaan dapat menyebabkan krisis dalam dunia pendidikan.
Krisis pendidikan misalnya, ditandai dengan kegagalan dunia pendidikan dalam “memanusiakan manusia”. Suatu proses humanisasi yang sesungguhnya menjadi hakikat, misi, tujuan, dan fungsi utama dari pendidikan. Memanusiakan manusia yang dimaksudkan adalah menjadikan manusia sebagai hamba Allah (abd Allah), sekaligus khalifah Allah dimuka bumi (khalifah Allah fial-ard).
Dimensi abd adalah dimensi moralitas, spiritualitas, dan kesalehan, sedang dimensi khalifah adalah dimensi intelektualitas dan humanitas (keilmuan dan kemanusiaan). Sejatinya, pendidikan dapat membangun karakter manusia sebagai abd Allah dan khalifah Allah fi ial-ard tersebut. Tetapi dalam realitasnya pendidikan kita justru kerap kali melahirkan manusia (peserta didik) yang jauh dari karakter kesalehan, moralitas, spiritualitas, dan relegiusitas, serta tidak dapat mengembangkan demiensi intelektualitas dan humanitas secara baik.
Demikian pula, kaitan antara krisis pendidikan dan kebudayaan. Karena pendidikan gagal memanusiakan manusia, yakni membangun manusia yang berkarakter abd Allah dan kalifah Allah fi al-ard, sedangkan kebudayaan dibangun oleh manusia-manusia dari produk pendidikan yang gagal tersebut, maka sudah dipastikan kebudayaan yang dibangun pun akan mengalami kegagalan dan krisis yang tidak menentu. Misalnya, jika pendidikan melahirkan manusia yang jauh dari karakter keislaman, kesalehan, moralitas, spiritualitas, dan religiusitas, serta tidak dapat mengembangkan dimensi intelektualitas dan humanitas secara baik, maka kebudayaan yang dibngun pun akan kosong dari dimensi tersebut.[1]
Pendidikan adalah sebuah aktivitas yang memiliki maksud tertentu, yang di arahkan untuk mengembangkan individu sepenuhnya. Konsep pendidikan Islam tidak dapat sepenuhnya dipakai tanpa terlebih dahulu memahami penafsiran Islam tentang pengembangan individu sepenuhnya. Pendidikan adalah sebuah proses yang mencakup tiga faktor : individu, masyarakat atau komunitas nasionalnya, yang sangat berperan dalam menentukan sifat dan nasib manusia dan masyarakat.
Mereka sepakat bahwa pendidikan adalah suatu proses berkelanjutan yang diperlakukan bagi perkembangan orang-orang secara penuh dan seimbang. Dalam Islam manusia dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi dan seluruh ciptaan yang lain yang tunduk kepada manusia. Menurut al-Qur’an setelah Tuhan menciptakan manusia pertama Adam, Tuhan mengajarkan kepadanya nama-nama benda, dengan kebesarannya, Tuhan menciptakan segalanya dari tiada menjadi ada. Adanya pengajaran nama-nama benda kepada Adam, berarti membuatnya sadar akan esensi ciptaan, dengan kata lain membuat sadar akan sifat-sifat Tuhan dan hubungan Tuhan dengan ciptaannya.
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang melatih kepekaan (sensibility) para peserta didik sedemikian rupa, sehingga sikap hidup dan perilakunya dikuasai oleh perasaan mendalam nilai-nilai etis dan spiritual Islam. Mereka dilatih, dan mentalnya didisiplinkan, sehingga mereka mencari pengetahuan tidak sekedar memuaskan keingin-tahuan intelektual atau hanya untuk keuntungan dunia material belaka, tetapi juga untuk mengembangkan diri sebagai makhluk rasional dan saleh yang kelak dapat memberikan kesejahteraan fisik, moral dan spiritual bagi keluarga, masyarakat dan umat.[2]
Pendidikan yang Revolusionis
Dialektika revolusi mengatakan bahwa revolusi merupakan suatu usaha menuju perubahan menuju kemaslahatan rakyat yang ditunjang oleh beragam faktor, tak hanya figur pemimpin, namun juga segenap elemen perjuangan beserta sarananya. Dalam arti luas, revolusi merupakan perubahan radikal menyangkut pemerintah dan masyarakat suatu negara dengan mengagungkan cara-cara kekerasan. Di dalam ilmu sosial.[3] (kecuali yang kemarxis-marxi-san) revolusi tidak banyak dibahas, oleh karena pada hakikatnya terjadinya revolusi adalah akibat dari sistem sosial yang tidak berfungsi, alias disfungsional.
Pendidikan Islam ialah pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya. Karena pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup, baik dalam perang, dan untuk menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kesejaheraannya, manis dan pahitnya. Pendidikan Islam, seperti yang digambarkan di atas mestilah mencakup jangkauan yang luas. Menjangkau seluruh aspek kehidupan. [4]
T.S Eliot menyatakan bahwa pendidikan yang amat penting itu tujuannya harus diambil dari pandangan hidup. Jika pandangan hidup (philosophy of life) Anda adalah Islam, maka tujuan pendidikan menurut Anda haruslah diambil dari ajaran Islam. Pertanyaan sekarang adalah bagaimanakah pendidikan menurut Islam? Gambaran manusia sempurna menurut Islam?
Menurut Abdul Fattah Jalal, tujuan pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Ia mengatakan bahwa tujuan ini akan mewujudkan tujuan-tujuan khusus. Dengan mengutip surat al-Takwir ayat 27, Jalal menyatakan bahwa tujuan itu adalah untuk semua manusia. Jadi menurut Islam pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan diri kepada Allah. Yang dimaksud dengan menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.[5]
Islam menghendaki agar manusia didik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hudupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup manusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah.[6] Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Dzariyat ayat 56:
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur wÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. AL-Dzariyat: 56).
Karya ilmiah ini, mengambil langkah penting dalam menjawab tantangan krisis pendidikan yang mulai goyah dengan adanya peradaban yang datang dari luar dunia Islam, terutama yang datang dari dunia barat yang bisa menghancurkan pendidikan dan nilai-nilai peradaban Islam sendiri. Ditambah lagi dengan adanya permasalahan yang timbul dalam dunia pendidikan, yang bisa mencoreng nama baik dunia pendidikan. Apakah ini sudah sesuai dengan konsep pendidikan dalam Islam? Sedangkan pendidikan itu diharapkan bisa membawa kepada sebuah perubahan (revolution) yang besar, dan menciptakan sebuah peradaban yang besar pula. Akankah pendidikan kita bisa membawa pada sebuah perubahan yang besar? Sedangkan peradaban dan pola pendidikan dari luar yang bebas masih terus tumbuh subur mengkarat dalam dalam dunia pendidikan dan peradaban Islam.
Tetapi para pemikir agamis, Marxis dan sekularis mengenai pendidikan berbeda-beda. Perbedaan inilah yang telah menimbulkan pertentangan di dunia modern. Ketika dunia Islam melakukan modernisasi, ia dengan serta merta diserbu konsep-konsep para Marxis dan para penganut liberalisme non Marxis. Dari sudut pandang doktrinal memang mudah menolak ide-ide Marxis, tetapi cukup sulit menetralkan pengaruh-pengaruh liberalisme Barat karena mengusai seluruh cabang pengetahuan dan juga karena belum keberhasilan para sarjana Muslim merumuskan konsep-konsep Islam untuk menggantikan konsep-konsep para penganut liberalisme.
Bahaya besar pendidikan budaya (liberal education) adalah penciptaan bermacam-macam ide dan pikiran yang membingungkan. Sebagaimana kritik terhadap pendidikan budaya yang dinyatakan akhir-akhir ini, tak ada cara yang pasti untuk menjamin kelestarian masa-masa lampau. Mengenai analisa historisnya mengenai pendidikan budaya, Dr. Rothblatt dalam buku Tradition and Chenge in Englis Liberal Education, menyimpulkan bahwa perubahan bentuk yang tidak henti mengenai hubungan antara pendidikan budaya, pengetahuan dan dan penciptaan berbagai ‘skema filosofis’ benar-benar telah merusak hubungan antara diri, pendidikan dan masyarakat.
Pertalian antara peradaban dan pendidikan, amatlah jelas. Peradaban harus difahami sebagai kebudayaan. Secara lengkap peradaban dapat diartikan sebagai keadaan kebudayaan dari suatu kelompok sosial yang menggambarkan tingkat pencapaian tertentu dalam bidang-bidang kesenian, industri, ilmu pengetahuan, moral dan wawasan pemikiran.
Suatu tingkat pencapaian kebudayaan, pasti memerlukan sebuah ikhtiar atau sebuah proses. Dalam hal ini kami berpendapat, bahwa iktiar, sarana atau proses ialah belajar. Dalam sebuah karangannya yang berjudul The Silen Language, Edward T. Hall menegaskan “Culture is Learned”, atau bahkan “Culture is Learned Behavior” yang intinya Edward mengatakan bahwa kebudayaan itu ialah ilmu pengetahuan, bahkan kebudayaan itu sudah menjadi suatu sifat (tabiat).[7]
Pendidikan Menurut Islam
Pengertian sistem pendidikan dalam kamus bahasa Indonesia dinyatakan bahwa sistem berarti perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas, sesuatu yang teratur dari pandangan, teori, asas, sistem diartikan juga dengan metode. [8]
Kalau diartikan dengan pengertian dan tujuan pendidikan Islam, maka dapat dipahami bahwa sistem pendidikan Islam adalah seperangkat unsur yang terdapat dalam pendidikan yang berorientasi pada ajaran Islam yang saling berkaitan sehingga membentuk satu kesatuan dalam mencapai tujuan yaitu membentuk kepribadian utama.[9]
Sistem pendidikan Islam yang sekarang ini merupakan pengembangan dari sistem pendidikan terdahulu. Jika ditinjau dari dari histories, sistem pendidikan Islam yang pertama kali terdiri dari dua komponen yaitu tujuan dan alat pendidikan. Kemudian mengalami perkembangan sehingga komponen sistem pendidikan itu terdiri atas tujuan, pendidik, anak didik, sarana, dan lingkungan.
Al-Abrasyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan lima tujuan umum bagi pendidikan Islam, yaitu:
- Untuk mengadakan pembentukan akhlak yang mulia. Kaum Muslimin dari dahulu sampai sekarang setuju bahwa pendidikan ahklak adalah inti dari pendidikan Islam, dan bahwa mencapai ahklak yang sempurna adalah tujuan pendidikan yang sebenarnya.
- Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pendidikan Islam bukan hanya menitik beratkan pada keagamaan saja, tetapi pada kedua-duanya haruslah seimbang.
- Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi manfa’at atau yang lebih terkenal sekarang ini dengan nama tujuan–tujuan vokasional dan professional.
- Menumbuhkan semangat ilmiah pada pelajar dan memasukan keingin tahuan (curiosity) dan memungkinkan ia mengkaji ilmu demi ilmu itu sendiri.
- Menyiapkan pelajar yang profesional, teknikal, dan pertukangan supaya dapat menguasai profesi tertentu, dan keterampilan pekerjaan tertentu.[10]
Tujuan pendidikan Islam seharusnya lebih mengacu pada pendapat Al-Ghazali yaitu menyiapkan generasi yang cakap dan mampu melakukan pekerjaan dunia dan amalan akhirat, sehingga tercapai kebahagiaan dinia bersama akhirat. Untuk mencapai kebahagian dunia, generasi muda tidak hanya diajarkan memahami teori saja, akan tetapi dilatih berbagai kompilasi sesuai dengan potensi atau fitrahnya yaitu menurut bakat dan pembawaan (potensi) dan minat masing-masing.
Untuk mencari kebahagian akhirat, mereka harus mengetahui dan memahami aturan dasar, cerdik dalam memahami makna iman, akhlak, ibadah, dan beramal saleh sesuai dengan al-Qur’an dan Hadits. Sehingga mempunyai pegangan dan berani mengamalkan yang hak dan berani meninggalkan yang haram.[11]
Berkenaan dengan hal itu juga, Al-Ghazali pernah mengungkapkan sebuah perkataan mengenai pendidikan ini yaitu “apabila engkau mengadakan penelitian terhadap ilmu pengetahuan, maka engkau akan melihat kelezatan padanya, oleh karena itu tujuan mepelajari ilmu pengetahuan adalah karena karena ilmu pengetahuan itu.
Penulis mencermati apa yang telah diungkapkan oleh seorang ilmuan dan sekaligus filosof Islam yaitu Al-Ghazali, bahwa memang benar jika kita ingin mengalami sebuah perubahan yang signifikan dan besar kita harus membenahi sistem dan metode yang digunakan dalam mengembangkan pendidikan Islam. Hal ini terbukti jika kita sungguh-sungguh memakai konsep yang sesuai dengan sendi dan dasar dari pendidika Islam itu sendiri pasti kita akan bisa menciptakan sebuah peradaban yang besar dalam segala aspek kehidupan.
Islam memanndang bahwa pendidikanlah yang sangat memungkinkan untuk bisa membawa kepada sebuah peradaban yang besar, baik dalam hal sosial-politik, ekonomi, kebudayaan dan diberbagai hal yang lainnya. Islam memandang pendidikan merupakan kebutuhan dasar dalam Islam, agama Islam adalah ilmu pengetahuan dan cahaya.
Pendidikan yang sesuai dengan konsep Islam
Berbicara tentang konsepsi Islam tentang lembaga pendidikan, maka akan menyangkut masalah siapa yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan pendidikan didalam lembaga itu. Oleh karena itu, perlu juga dibicarakan tempat-tempat dan pendidikan itu dilaksanakan. Secara garis besar lembaga pendidikan itu dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.[12]
Sejarah mencatat bahwa awal terjadinya pendidikan Islam yaitu semenjak Nabi Muhammad di angkat menjadi Nabi dan Rasul di kota Makkah. Beliau sendiri yang menjadi gurunya, sekaligus menjadi pigur seorang tokoh yang dikagumi dan di ikuti. Pendidikan pada masa itu merupakan proto type yang terus menerus di kembangkan oleh umat Islam untuk kepentingan pendidikan pada zamannya.
Sebagai contoh pendidikan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika berada di Makkah sesuai dengan konsep dalam Islam. Nabi Muhammad menerima wahyu yang pertama di gua Hira di Makkah pada tahun 610 M.[13] hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat al-Alaq ayat 1-5, dan dalam surat A-Muzzammil ayat 1-5:
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷èt ÇÎÈ
Artinya:
(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan (2). Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (3). Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah ,(4). yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.[14](5). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
$pkr’¯»t ã@ÏiB¨ßJø9$# ÇÊÈ ÉOè% @ø©9$# wÎ) WxÎ=s% ÇËÈ ÿ¼çmxÿóÁÏoR Írr& óÈà)R$# çm÷ZÏB ¸xÎ=s% ÇÌÈ ÷rr& ÷Î Ïmøn=tã È@Ïo?uur tb#uäöà)ø9$# ¸xÏ?ös? ÇÍÈ $¯RÎ) Å+ù=ãZy øn=tã Zwöqs% ¸xÉ)rO ÇÎÈ
Artinya:
(1). Hai orang yang berselimut (Muhammad) (2). Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari[15], kecuali sedikit (daripadanya), (3). (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.(4). Atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan, (5). Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu Perkataan yang berat.”
Dari kedua ayat tadi di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam terdiri dari empat macam:
1). Pendidikan keagamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan dipersekutukan dengan nama berhala, karena Tuhan itu Mahabesar dan Mahapemurah.
2). Pendidikan akliyah dan ilmiyah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta.
3). Pendidikan akhlak dan budi pekerti, yaitu sipendidik hendaklah suka memberi/mengajar tanpa mengharapkan balasan dari orang yang menerima pemberian itu (peserta didik).
4). Pendidikan jasmani (kesehatan), yaitu meningkatkan kesehatan, bersih pakaian, bersih badan, dan bersih tempat kediaman.[16]
Pendidikan yang dilakukan oleh Rasulallah sejalan dengan tahap-tahap seruan yang disampaikan kepada kaum kurasy. Adapun tahapan pendidikan yang itu adalah:
1). Pendidikan yang dilakukan kepada perorangan yang dilakukan secara rahasia. Hal sesuai dengan apa yang telah diterangkan dalam Al-Qur’an surat Thaha ayat 214-215:
$yg»oYôJ£gxÿsù z`»yJøn=ß 4 xà2ur $oY÷s?#uä $VJõ3ãm $VJù=Ïãur 4 $tRö¤yur yìtB y¼ãr#y tA$t7Éfø9$# z`ósÎm7|¡ç uö©Ü9$#ur 4 $¨Zà2ur úüÎ=Ïè»sù ÇÐÒÈ çm»oY÷K¯=tæur spyè÷Y|¹ <¨qç7s9 öNà6©9 Nä3oYÅÁósçGÏ9 .`ÏiB öNä3Åù’t/ ( ö@ygsù öNçFRr& tbrãÅ3»x© ÇÑÉÈ
“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat, dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. dan kamilah yang melakukannya. Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu, Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).” (Q.S. Thaha: 214-215).
2). Menyeru dan mengajak kepada Bani Abdl Muthalib ke dalam Islam.
3). Seruan dan ajakan kepada umum.[17]
Hal ini sejalan dari tugas dan fungsi Nabi di utus kedunia ini yaitu sebagi rahmat bagi sekalian alam, yang tidak membedakan antar satu etnik dengan etnik lainnya. Dalam satu ayat Allah SWT berfirman:
!$tBur »oYù=yör& wÎ) ZptHôqy úüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ
“ dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. AL-Anbiya: 107).
Allah memuliakan manusia dengan akal dan kemampuan untuk belajar dan menjadikan ilmu sebagai penunjang kepemimpinan manusia di bumi. Islam datang dengan anjuran agar manusia berfikir, melakukan analisis, dan melarang untuk sekedar ikut-ikutan atau taklid. Islam menjadikan belajar dan berpikir sebagai aktivitas yang diwajibkan untuk pemeluknya.[18]
Kaitan antara Pendidikan dan Peradaban
Umat Islam pada zaman pertengahan memegang tampuk kemajuan yang cukup gemilang dalam segala bidang, baik dalam ilmu pengetahuan, kesusastraan, kepandaian, dan kebudayaan.
Menurut Ibn Khaldun, tanda kemajuan peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmetik, astronomi, kedokteran, dan sebagainya. Bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung dan berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi, substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Namun, ilmu pengetahuan tidak mungkin hidup tanpa adanya komunitas yang aktif mengembangkannya melalui pendidikan.
Dalam salah satu seminar, Nurcholis Madjid menjelaskan tentang hubungan organik antara iman dan ilmu dalam Islam. Menurutnya, ilmu adalah hasil pelaksanaan perintah Tuhan untuk memperhatikan dan memahami alam raya ciptaan-Nya. Garis argumen ini dijelaskan oleh Ibnu Rusdy, seorang filosof Muslim yang karya-karyanya mempengaruhi dunia pemikiran Erofa yang mendorongnya ke zaman renaisan, dalam makalahnya yang amat penting, fashl al-Maqal ma Bain al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Itthisal.[19]
Tumbuh dan tenggelamnya peradaban manusia serta unggul dan kalahnya, bukan karena sesuatu yang kebetulan semata, tetapi ada sebab-sebab tersembunyi yang berperan di balik fenomena tersebut. Apabila kita amati dengan cermat dan jujur, maka akan kita temukan suatu kesimpulan bahwa kepemimpinan yang sanggup mengendalikan umat manusia itu mempunyai kaitan yang kuat dengan tingkat penguasaannya terhadap ilmu pengetahuan dan sistem pendidikan. Menurutnya, peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen penting yaitu, kemampuan manusia untuk berfikir yang menghasilkan sains dan teknologi, kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer, dan kesanggupan berjuang untuk hidup.
Jadi, kemampuan berfikir merupakan elemen asas suatu peradaban. Suatu bangsa akan beradab (berbudaya) hanya jika bangsa itu telah mencapai tingkat kemampuan intelektual tertentu. Sebab kesempurnaan manusia ditentukan oleh ketinggian pemikirannya. Suatu peradaban hanya akan tumbuh jika manusia di dalamnya memiliki pemikiran yang tinggi sehingga mampu meningkatkan taraf kehidupannya. Suatu pemikiran tidak dapat tumbuh begitu saja tanpa sarana dan prasarana ataupun supra-struktur dan infra-struktur yang tersedia. Dalam hal ini pendidikan merupakan sarana penting bagi tumbuhnya pemikiran. Allah memberikan anugerah kepada manusia berupa tiga nikmat potensial, yaitu as-Sam’u (daya pendengaran), al-Basharu (daya pengamatan), dan al-Fu’ad (daya hati-nurani), yang tidak diberikan-Nya kepada makhluk-makhluk yang lain.
Sayangnya tidak semua manusia mampu menangkap makna firman Allah tersebut dengan baik yang tersimpan dalam tiga kata tersebut. Kita seharusnya tidak memahami kata-kata tersebut sebatas arti harfiyahnya semata. Kata as-Sam’u bukan sekedar mendengar dengan telinga, tetapi menangkap informasi dan melindungi nilai-nilai ilmiah yang sudah dicapai oleh orang-orang lain (atau diwariskan oleh generasi terdahulu ). Kemudian al-Bashar tidak hanya sekedar melihat dengan mata, tetapi juga pengamatan, penelitian dan analisa-analisa laboratoris untuk mengembangkan keilmuan yang baru. Dan al-Fu’ad bukan sekedar membatin dalam hati, tetapi mengelaborasi dengan membuat evaluasi dan uji kebenaran lebih mendalam terus-menerus, untuk mengetahui mana yang valid dan mana yang tidak.
Maka bangsa dan masyarakat manapun yang mampu mengembangkan ketiga nikmat potensial tersebut dengan cara yang baik, dialah yang akan menguasai sistem pendidikan dan dapat membangun peradaban yang maju. Sedangkan mereka yang tidak mampu melakukan hal tersebut, akan hidup dalam keterbelakangan dan ketidakberdayaan.
Pendidikan Islam dan Tangtangan Abad Modern
Pada abad modern ini terdapat tantangan yang berbahaya yang dihadapi oleh pendidikan Islam yang berupa eksistensi sistem pendidikan Islam dan menyapu paji-panjinya. Tantangan itu merupakan bagian dari tantangan global yang memperdaya peradaban Islam, terkadang berbaju politik dan terkadang pula dalam bentuk pendudukan meliter. Suatu waktu dalam bentuk gazwu tsaqafi (perang peradaban) dan pada saat yang lain dapat berbentuk tradisi masyarakat. Benang merah tantangan-tangtangan itu terbentang dalam bentuk perang salib dan zionis yang memperdaya Islam dan para pemeluknya.[20] Allah SWT. Mengingatkan:
“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan ucapan-ucapan mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya,” (QS. Al-Shaff: 8).
Pendidikan, baik sebagai proses pengembangan potensi-potensi individu menuju kepada kebahagiaan masyarakat, ataupun sebagai pewarisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda, telah diakui sebagai satu-satunya jawaban terhadap masalah kemunduran suatu bangsa. Dengan kata lain, suatu bangsa atau masyarakat yang masih berada dalam tahap terbelakang dibandingkan dengan masyarakat bangsa-bangsa lain, hanya dapat menghilangkan keterbelakangan itu melalui pendidikan.
Pendidikan bukan hanya berarti pewarisan nilai-nilai budaya berupa kecerdasan dan keterampilan dari generasi tua kepada generasi muda , tetapi juga berarti pengembangan potensi-potensi individu untuk kegunaan individu itu sendiri dan selanjutnya untuk kebahagian masyarakat. Sebab penemuan-penemuan ilmiah dan ciptaan-ciptaan baru dalam teknologi bermula dari individu. Tanpa individu yang kreatif, masyarakat tidak ubahnya seperti beras dalam karung, banyak tetapi tidak dapat berbuat apa-apa.[21]
Di sisi lain umat Islam dihadapkan pada maslah-masalah yang sangat besar, yaitu mulai dari masalah sosial politik, ekonomi, kebudayaan, peradaban dan tangtangan abad modern. Oleh karena itu kita harus bisa mencermati setiap langkah yang akan akan kita lakukan terutama dalam masalah menciptakan pendidikan yang sesuai dengan konsep Islam dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Pendidikan Islam harus mampu menjawab tangtangan-tangtangan tersebut dan mampu memberikan solusi pemecahan terhadap masalah tersebut.
Kita sering mendapatkan informasi yang memprihatinkan tentang menyebarnya berbagai macam penyakit di suatu negara, banyaknya pengemis, gelandangan-gelandangan, serta orang yang buta huruf. Jumlah orang buta huruf lebih banyak dibandingkan dengan keprihatinan-keprihatinan masalah sosial yang lain ketika suatu negara belum melakukan revolusi ilmu pengetahuan. Kita juga sering mendapatkan informasi tentang merebaknya penyimpangan-penyimpangan moral dan kriminalitas. Seandainya kita cepat tanggap terhadap aktifitas pengajaran dan pendidikan secara maksimal, maka bangsa ini akan lebih baik dan maju, baik dari segi moralnya, kehidupan sosial ekonominya, maupun kesehatannya.[22]
Khusus untuk ahli-ahli pendidikan Islaim, inilah masa yang ditunggu-tunggu di mana kita harus tampil ke depan menyingsingkan lengan baju, menjadi saksi bagi seluruh umat manusia bahwa pemecahan masalah manusi itu ada di tangan Islam. Dan ini bukanlah tugas yang mudah, tetapi dapat dilaksanakan sesuai dengan kafasitas yang dimiliki oleh para ahli pendidikan Islam.
Ada 4 faktor yang bisa menjamin keberhasilan manusia menghadapi kemelut dunia yang belum nampak tanda-tanda penyelesaiannya itu.
1) Iman
2) Amal Shaleh
3) Pesan-pesan dengan haq (diterjemahkan dalam konteks dunia sekarang ini adalah sains atau fakta yang benar).
4) Saling berpesan agar bersabar (diterjemahkan dengan bahwa psikologi adalah penagguhan ganjaran). Itu juga arti balesan di akhirat sebagai ganjaran terhadap amal di dunia.
Dengan 4 senjata ini, kalau betul betul dijalankan sesuai dengan konsep Islam dalam pendidikan , insya Allah kemelut yang dihadapi dunia pendidikan Islam dan bangsa ini akan terselesaikan.[23]
Adapun yang menjadi tantangan pendidikan Islam di abad modern itu antara lain:
- Al-Gazwul Hadhari (perang peradaban)
Berkaitan dengan al-gazwul hadhari, seorang ilmuan antropologi, Linton mengatakan, “Setiap peradaban terdiri dari bagian umum, bagian khusus, dan bagian substansi.” Bagian umum mengandung nilai-nilai, adat istiadat, tradisi dan pemikiran-pemikiran dasar yang mengikat seluruh anggota masyarakat. Bagian khusus adalah konsep-konsep dan adat istiadat yang tidak bertentangan dengan dengan bagian umum. Bagian khusus hanya berlaku untuk sebagian anggota masyarakat dan tidak berlaku untuk kelompok lainnya. Adapun substansi dari peradaban adalah pemikiran-pemikiran atau adat istiadat yang dibangun oleh seorang individu, seperti keinginan pribadi untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya, tetapi tidak membahayakan kelompok lain.
Pendidikan Islam memiliki peranan yang harus dimainkan yaitu membuka sebuah perubahan (revolution) peradaban kearah yang lebih baik dan sesuai dengan konsep pendidikan dalam Islam. Al-gazwul hadhari ini sangat berbahaya bagi anak-anak dan pemuda-pemuda Islam. Pendidikan Islam hendaknya dapat menjaga mereka dari bahaya-bahaya yang ditimbulkannya sehingga mereka tidak terjerumus dalam berbagai ketidakjelasan yang mengitari keislaman dan peradaban mereka. Pendidikan Islam harus mampu mendorong mereka supaya memiliki sikap positif dalam upaya menampilkan karakteristik asli agama dan turast-nya (pusaka umat yang amat mulia), yang akan menjaga dasar-dasarnya yang kokoh. Islam itu kokoh pangkalnya, dinamis cabang-cabangnya. Islam adalah akidah dan sistem hidup yang cocok untuk setiap tempat dan zaman.
- 2. Tantangan internal yang tercermin dalam bentuk stagnasi produk pemikiran Islam dan serangan atas setiap upaya untuk menghasilkan pemikiran.
Karena tantangan ini, para pemuda Muslim terbelenggu di depan peradaban material yang justru memeranginya dengan mempergunakan media masa dan teknologi, seperti radio, surat kabar, bioskop, televise dan lain-lain. Pendidikan Islam memiliki peranan yang sangat penting dalam memperkokoh prinsip kalimat haqq dan dalam menampilkan nilai-nilai da’wat ilallah dengan ilmu pengetahuan, kesadaran dan dengan keadilan. Firman Allah:
“Katakanlah, inilah jalan (agama)-ku. Aku dan orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada jalan Allah dengan argumentasi yang jelas. Maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108).
- Kebudayaan di mata pemuda-pemudi kita yang terpelajar adalah semata-mata kebudayaan asing.
Para pemuda kita yang belajar di Barat, saat mereka kembali ke negerinya, tampak bahwa mereka mengikuti peradaban Barat secara membabi buta. Mereka membawa filsafat-filsafat Barat yang tidak relevan dengan kenyataan dan turas kita, karena memang filsafat itu tumbuh dan berkembang pada masyarakat asing yang jauh dari bumi dan masyarakat kita.
Para pemuda itu, pada umumnya pergi ke Barat ketika mereka masih berumur dini dan belum memiliki prinsip pemikiran Islam dan akidah yang kuat. Jelas mereka akan kembali dengan membawa kebimbangan-kebimbangan yang menggoyahkan keislaman mereka. Misalnya seperti ungkapan-ungkapan, “Agama adalah musuh ilmu pengetahuan. Agama adalah membelenggu masyarakat. Agama itu hanya mengatur hubungan antara hamba dengan tuhannya, dan tidak ada kaitannya dengan pengaturan kehidupan, dan lain-lainnya.”
Oleh karena itu, sistem dan revolusi peradaban pendidikan Islam harus benar-benar di galakan kembali agar tidak adanya ketimpangan antara dunia pendidikan yang berasal dari Barat dengan dunia pendidikan yang berasal dari Timur. Hal ini sangat sejalan dengan cita-cita dan tujuan pendidikan Islam itu sendiri, yaitu, tujuan sejati pendidikan adalah menghasilkan orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan, yang satu sama lain saling menopang.
- Kurukulum kebudayaan Islam berhenti pada kurikulum-kurikulum lama.
Istilah kurikulum berasal dari bahsa latin “curriculum” yang berarti “a running caurse, specialy a chariot race caurse” . dan terdapat pula dalan bahasa Prancis “caurir” artinya “to ran”, yang berarti “berlari” istilah ini digambarkan untuk sejumlah “caurses” atau mata pelajaran yang harus di tempuh untuk mencapai gelar atau ijazah.[24]
Dengan kata lain, kurikulum budaya Islam kurang memperhatikan perkembangan-perkembangan modern untuk menjaga para pemuda dari keterperosokan mereka yang tiba-tiba ke dalam kejahatan hidup abad modern dan kebudayaan Barat. Kurikulum kebudayaan Islam tidak pun tidak membekali mereka, konsep Islam yang lengkap untuk kehidupan Islami yang dibangun di atas dasar ilmu, amal, akidah dan jihad, serta di atas dasar pemahaman bahwa Islam adalah sistem kehidupan yang sempurna, yang mampu memecahkan problematika ekonomi, sosial, kebudayaan, politik dan lain-lain dengan menggunakan metode mutakhir yang dapat memelihara pokok-pokok ajaran Islam yang dengan kelembutannya mampu menjawab tuntutan abad modern.
- Kurikulum-kurikulum universitas-universitas modern di negara-negara Arab dan Islam memisahkan kebudayaan islam dari kurikulumnya, dengan alasan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja. Sementara pendidikan keagamaan cukuplah merupakan tugas fakultas agama.
Hal ini tentunya tidak diinginkan dalam dunia pendidikan Islam. Kita harus memahami masalah ini dan berusaha memasukan kebudayaan Islam pada kurikulum sekolah dan universitas kita. Adalah suatu pemikiran terbalik, bahwa pengajaran kebudayaan Islam dengan menggunakan kurikulum kebudayaan yang lain dapat menghasilkan output kaum terpelajar Muslim.
- Tantangan yang berhubungan dengan pendidikan wanita Muslim.
Pendidikan modern sangat giat dan semangat atas nama nasionalisme dan emansipasi untuk mempropagandakan pendidikan wanita. Padahal pendidikan untuk anak-anak wanita dianggap cukup dengan pelajaran ilmu syar’i yang dapat menjadikan mereka istri yang mampu menjalankan isi keluarga, menjadi ratu berwibawa di rumah tangga dan menjadi ibu yang baik dan terdidik dengan kebudayaan Islam yang kokoh. Rumah adalah lembaga pendidikan pertama yang bertugas mempersiapkan putra dan putri kita. Pada tangan ibulah tugas mencetak kepribadian generasi kita dimasa depan. Dalam bait syair dikatakan:
“Ibu itu adalah guru jika kita mempersiapkannya,
Ibu akan mempersiapkan bangsa yang keringatnya harum.”
Jika kita kehilangan peranan seorang ibu dalam rumah tangga, atau para ibu menelan pemikiran-pemikiran yang tidak Islami, maka kita akan seperti burung yang berusaha terbang dengan hanya satu sayap. Tidak akan ada keseimbangan sebab tidak adanya dua sisi yang saling mendukung antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, peranan ibu sangat besar dalam mendidik putra-putri bangsa ini sehingga bisa menjadi sebuah bangsa sangat besar.
Masa Depan Pendidikan Islam
Masa depan pendidikan Islam di negara-negara Arab dan Islam tergantung tingkat kesadaran para pendidik Muslim, keikhlasan dan perbuatannya. Sejak dulu pendidikan Islam telah menumbuhkan generasi yang beriman, generasi yang berguna bagi dirinya dan mengabdi kepada masyarakatnya serta membawa manusia kepada kesejahteraan dan kebahagiaan.
Sekarang ini pendidikan Islam terhenti dalam menghadapi tantangan-tantangan yang terus bertiup kencang. Orang Islam semuanya harus bangkit untuk menghadapinya, baik secara individu maupun secara kelompok, suku bangsa ataupun umat manusia, negara ataupun pemerintahannya. Berikut ini kami akan kami sampaikan sebagian konsep Islam, tentang masa depan pendidikan Islam di dunia Arab dan Islam:
- Pendidikan Islam itu harus senantiasa dinamis dalam segala aspek kehidupan
- Membenahi filsafat pendidikan Islam
- Meningkatkan mutu pendidikan yang profesional
- Melanjutkan upaya pemberantasan buta huruf
- Meningkatkan perhatian sekolah terhadap perkembangan peserta didik secara sempurna
- Mendidirikan Univesitas Islam dengan memakai kurikulum yang terpadu
- Sistem pendidikan anak-anak dan wanita harus sesuai dengan tabiatnya
- Memperhatikan pendidikan keterampilan
- Meningkatkan perhatian terhadap pengajaran bahasa Arab
- Berhati-hati terhadap racun-racun Imperialisme, misionarisme dan sosialisme
- Berupaya menampilkan kebudayaan dan peradaban bangsa timur
- Berhati-hati terhadap program zionisme
- Membantu dan membimbing generasi muda dalam dunia pendidikan
- Mengembalikan misi dan fungsi Mesjid
- Membentuk jaringan kerjasama antar umat dan lembaga-lembaga pendidikan
Mudah-mudahan dengan adanya konsep Islam tentang dunia pendidikan ini, bisa bisa membawa kepada sebuah perubahan dan pembaharuan dalam kepribadian para pendidik Muslim, serta sistem pendidikan Islam yang sesuai dengan konsep aslinya.[25]
Adapun mengenai maslah kurikulum dalam pendidikan Islam, maka jika kita kembali kepada rumus-rumus bahasa Arab, maka kita mendapatkan kata “Manhaj” (kurikulum) bermakna jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai macam kehidupannya. Dalam bidang pendidikan sendiri, kurikulum (Manhaj) dimaksudkan sebagai jalan yang dilalui oleh para pendidik atau dengan orang yang dididik untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka.[26]
Khatimah
Dari pemaparan di atas ternyata nampak jika pendidikan Islam telah kehilangan sisi kemanusiaannya Maka, pendidikan memerlukan konsep yang serat dan kaya akan akan nilai-nilai kemanusiaan. Proses penyadaran yang dilakukan secara berkesinambungan dan terus menerus harus di tumbuh suburkan agar kesadaran kesadaran kolektif yang akan mampu mengetuk hati nurani, bahkan bukan tidak mungkin akan menciptakan revolusi pendidikan Islam yang menyeluruh dalam segala aspek kehidupan. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang mamanusiakan manusia seutuhnya, baik akal, hati, jasmani, rohaninya, akhlaknya, dan keterampilannya.
Krisis pendidikan Islam dan kebudayaan ini merupakan sebuah tantangan yang terbesar untuk menciptakan sebuah perubahan dalam dunia pendidikan. Islam harus mampu melatih kepaekaan (sensibility) dan mampu menanamkan nilai-nilai etis dan spiritualitas. Pengaruh budaya dan pendidikan dari luar yang bebas dan tidak memperhatikan etika dan norma agama haruslah ditinggalkan, karena tidak sesuai dengan kaidah dan norma Bangsa Timur, khususnya Bangsa Indonesia. Pendidikan yang ideal harus mampu melahirkan manusia yang berkarakter keislaman, kesalehan, moralitas, spiritualitas, dan religuitas serta mampu mengembangkan intelektualitas yang baik.
Sistem pendidikan Islam harus mampu menjawab semua tantangan yang dataang dari dalam dan luar kebudayaan Islam. Adanya pendidikan Islam harus bisa menciptakan sebuah perubahan yang besar dalam segala aspek kehidupan, baik sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, dan yang lainnya. Untuk menciptakan sebuah perubahan yang besar dalam dunia pendidikan, maka harus adanya tiga faktor pendukung, yaitu keluarga, lembaga pendidikan yang bersangkutan, dan lingkungan masyarakat. Untuk menciptakan sebuah peradaban yang besar dalam pendidikan, Allah telah memberikan kepada kita semuanya tiga potensi, yaitu penglihatan (al-bashar), pendenganran (as-sam’u), dan hati (al-fu’ad).
Adanya pemasalahan-permasalahan yang timbul dalam dunia pendidikan diharapkan Islam bisa tampil sebagai solusi utama dan mampu memcahkan semua permasalahan yang ada dalam pendidikan. Para ahli dan ilmuan Muslim harus mampu menjadi figur sekaligus menjadi guru yang mampu ditiru dan di ikuti dalam pelaksananan pendidikan, yang nantinya bisa membawa pendidikan ini pada sebuah perubahan. Pendidikan Islam haruslah pleksibel dalam segala aspek kehidupan
Revolusi peradaban pendidikan Islam harus digalakan kembali, agar tidak adanya ketimpangan antara dunia pendidikan yang berasal dari Barat dengan dunia pendidikan yang berasal dari Timur, khususnya Indonesia. Tentunya pendidikan yang diharapkan bisa membawa kepada sebuah perubahan dan peradaban yang besar. Dengan adanya konsep dasar pendidikan Islam, maka setidaknya masa depan pendidikan Islam bisa lebih baik dan bisa mengembalikan kembali peradaban Islam yang telah lalu.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Hakim, Atang , Jaih Mubarok, 2007, Metodologi Studi Islam, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya.
Ahmad Farhan, Ishak, 2002, Menyiasati Perang Peradaban, Jakarta, Harakah.
Al-Qardhawi, Yusuf, 1980, Pendidikan Islam dan Madrasah , Jakarta, Bulan Bintang.
Al-Qaradhawi, Yusuf, 2004, Konsep Islam Solusi Utama Bagi Umat, Jakarta, Senayan Abadi Publishing
Al-taumy Al-Syaibany, Omar Muhammad, 1975, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang.
Amin Rais, Muhammad, 2004, Hubungan antara Politik dan Dakwah, Bandung, Mujahid.
Arief, Armai , 2002, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan, Jakarta, Ciputat Pers.
Athiyah Al-Abrisyi, Muhammad , 1996, Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam, Yogyakarta, Titian Ilahi Press.
Departemen Pindidikan dan Kebudayaan, 1995, Kamus Besar Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka.
Fadjar, Abdullah, 1991, Peradaban dan Pendidikan Islam, Jakarta, Rajawali Pers.
Husain, Syed Sajjad, Ashraf, Syed Ali, 2000, Krisis Dalam Pendidikan Islam, Jakarta, PT Al-Mawardi Prima.
Langgulung, Hasan, 1995, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, Jakarta, PT Husna Zikra.
Nasution, 1993, Pengembangan Kurikulum, Bandung, Citra Aditiya Bakti.
Tabroni, Roni, 2006, Pengembangan Pendidikan Berbasis Umat, Bandung, Sekertariat Daerah Pemerintah Jawa Barat.
Riyadi, Hendar, 2008, Pendidikan dan Kebudayaan, Bandung, Gema Mujahidin.
Supardi, Ahmad, Seokarno, 1983, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Angkasa.
Tafsir, Ahmad, 2008, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung, PT Remaja Rosdakarya
Tim Editor, Panduan Keilmuan UIN Wahyu Memandu Ilmu, 2006, Bandung, Gunung Djati Press.
Yunus, Mahmud, 1992, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, PT. Hidakarya Agung.
Zainuddin, dkk, 1991, Seluk-beluk Pendidikan dari Al-Ghazali, Jakarta, PT. Radar Jaya Offes.
Zuhairini, 1995, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara.
[1] Hendar Riyadi, Pendidikan dan Kebudayaan, Bandung, Gema Mujahidin, Edisi 50/2008 M, Tahun ke-11/1429 H.
[2] Syed Sajjad Husen dan Syed Ali Ashraf, Krisis dalam Pendidikan Islam, Jakarta, Al-Mawardi Prima, 2000, Cet. 1, Hal. 1.
[3] Muhammad Amin Rais, Hubungan amtara Politik dan Dakwah, Bandung, Mujahid, 2004, Cet. 1, hal. 41.
[4] Yususf Qaradhawi, Pendidikan Islam dan Madrasah, Jakarta, Bulan Bintang, 1980, hal. 39.
[5] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2008, Cet. 8, hal. 46.
[6] Ibid
[7] Abdullah Fajdjar, Peradaban dan Pendidikan Islam, Jakarta, Rajawali Pers, 1991, hal. 1.
[8] Departemen Pindidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1995, Cet. 4, Edisi II, hal. 950.
[9] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan, Jakarta, Ciputat Pers, 2002, Cet. 1, hal. 70.
[10] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, Jakarta, PT Al-Husna Zikra. 1995,Cet. 3, hal. 60.
[11] Tim Editor, Panduan Keilmuan UIN Wahyu Memandu Ilmu, 2006, Bandung, Gunung Djati Press.
[12] Zuhairini dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1995, hal. 177.
[13] Mahmud yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, PT. Hidakarya Agung, 1992, Cet. 7, hal. 5.
[14] Maksudnya Allah mengajar manusia dengan perantara tulis baca.
[15] Sembahyang malam ini mula-mula wajib, sebelum turun ayat ke 20 dalam surat ini. Setelah turun ayat ke 20 ini maka hukumnya menjadi sunat.
[16] Ibid, hal. 6.
[17] Seokarno, Ahmad Aupardi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Angkasa, 1983, Cet. 1, hal. 32.
[18] Yusuf Al-Qaradhawi, Konsep Islam Solusi Utama Bagi Umat, Jakarta, Senayan Abadi Publishing, 2004. Cet. 1. hal. 31.
[19] Atang Abdul Hakim, Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2007, Cet. 7, hal. 18.
[20] Ishak Ahmad Farhan, , Menyiasati Perang Peradaban, Jakarta, Harakah, 2002, Cet.1, hal. 101.
[21] Hasan Langgulung, Op. Cit, hal. 261.
[22] Muhammad Athiyah Al-Abrisyi, Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam, Yogyakarta, Titian Ilahi Press, 1996, Cet. 1, hal. 44.
[23] Hasan Langgulung, Op. Cit. hal. 267.
[24] S. Nasution, Pengembangan Kurikulum, Bandung, Citra Aditiya Bakti, 1993, Cet. 5, hal. 9.
[25] Ishak Ahmad Farhan, Op. Cit. hal. 147.
[26] Omar Muhammad Al-Taumy Al-Syaibany, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1975, hal. 478.